Recent Updates Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • dewi.sari810610 3:00 am on 14 September 2010 Permalink | Reply  

    CERITA INSPIRASI – diri sendiri 

    Cerita Inspirasi Diri Sendiri

    Nama               : Dewi Ratna Sari

    NRP                : F24100016

    Laskar             : 19

    Saya memiliki sebuah pengalama pribadi yang menjadi inspirasi serta motivasi hidup bagi saya. Pengalaman itu membuat saya menjadi lebih berani dan mandiri, serta tidak mudah pututs asa. Pengalaman ini dimulai sejak akun duduk di bangku SMA.

    Saya adalah seorang gadis yang terlahir dari keluarga yang sederhana, mempunyai tiga orang kakak laki-laki dan saya adalah anak bungsu. Saya hanya tinggal dengan ibu saya, karena sejak SD, ayah serta ibu saya sudah bercerai.

    Memang saya termasuk gadis yang manja, karena saya anak bungsu. Tapi, ibu saya tidak pernah mengajarkan manja. Namun, walaupun saya bersikap prihatin terhadap keluarga, saya tetap seorang gadis yang sulit untuk mandiri.

    Semua bermula saat saya duduk di bangku SMA. Saya diterima di SMA favorit di kota saya. Alhamdulillah, saya saat duduk di bangku kelas 1 SMA, saya selalu mendapat peringkat 1 di kelas. Sekolah saya sudah tergolong SBI (Sekolah Bertaraf Internasional), sehingga saya tidak merasa malu sekolah di sana. Beruntunglah saya mendapat tawaran masuk kelas akselerasi, atau kelas percepatan yang hanya dalam jangka waktu dua tahun, kita bias lulus. Sekolah saya mulai mencoba mengadakan program akselerasi dan angkatan sayalah yang pertama.

    Awalnya saya tidak mau masuk kelas akselerasi. Alasan pertama, karena saya akan kehilangan masa SMA saya dengan cepat dan waktu bermain saya sedikit karena saya hanya menghabiskan waktu untuk belajar. Kedua, biayanya lebih mahal. Ketiga, saya belum siap bersaing dengan teman-teman yang pintar-pintar. Saya pun berniat menolak tawaran dari sekolah jika saya lolos seleksi.

    Seleksinya yaitu tes psikotest serta test kepribadian. Apabila IQ nya melebihi 125, maka lolos. IQ saya 131, saya pun lolos. Saya sempat bingung, apakah saya harus mengambil kesempatan itu, atau tidak. Namun ibu saya bilang kalau inj adalah kesempatan saya, jadi lebih baik saya ambil. Saya pun menurut.

    Awalnya saya agak takut. Namun setelah saya rasakan, ternyata saya nyaman berada di kelas akselerasi bersama 10 orang teman saya.  Kami memiliki karakter yang berbeda, namun ternyata kami sangat kompak. Walaupun terkadang kami mendapat tekanan dari teman-teman, saya merasa tenang dan bisa mengahdapi mereka.

    Masalah mulai muncul saat saya duduk di bangku kelas sebelas. Ada masalah di sekolah yang menyangkut kepala sekolah sehingga mengakibatkan guru-guru yang mengajar pada mogok ngajar. Akhirnya kamilah yang jadi korban.

    Kami sempat mengahmpiri kepala sekolah untuk menyelesaikan masalah ini. Kami semua berniat untuk mundur dari kelas akselerasi. Namun kepala sekolah seakan-akan menahan kami untuk tidak keluar. Kami merasa tertekan.

    Akhirnya kami sama-sama berusaha menyelaesaikan masalah ini. Kami solat istikharah untuk meminta petunju. Kalau kami maju, kami akan sulit saat UN dan masuk PTN karena pelajaran sudah banyak tertinggal. Kalau kami mundur, kemungkinan besar kami akn di black list dri sekolah dan susah untuk mengikuti segala kegiatan di sekolah.

    Lewat shalat istikharah, aku mendapat petunjuk untuk maju. Sedangkan dua orang temanku memilih mundur. Kami hanya tinggal berdelapan. Kami belajar lebih maksimal untuk mengejar materi. Sudah tidak ada waktu lagi untuk manja dn santai serta bergantung pada orang lain seperti dulu.

    Bayangkan saja, kami hanya menyelesaikan waktu satu tahun pelajaran hanya dalam waktu tiga setengah bulan, lalu UN! Kami sempat stress, tapi kami tidak menyerah. Walaupun waktu yang singkat, Alhamdulillah, kami semua lulus UN dengan nilai yang memuaskan. Saya pun mendapat nilai 53,20. lalu saya pun bisa masuk ke perguruan tinggi yang saya inginkan, yaitu IPB, jurusan teknologi pangan.

    Saya tidak menyesal dengan pilihan Allah. Semenjak saat itu, saya tidak begitu manja lagi dan saya pun sanggup menghadapi beberapa m,asalah dengan tegar. Saya malah beruntung bisa lulus dalam waktu dua tahun. Kalau saya lulus tahun depan, belum tentu nilai UN saya sebagus itu. Kalau saya lulus tahun depan, belum tentu saya bisa masuk IPB. Alhamdulillah. . .

     
  • dewi.sari810610 2:41 am on 14 September 2010 Permalink | Reply  

    CERITA INSPIRASI – orang lain 

    CERITA INSPIRASI ORANG LAIN

    Nama               : Deewi Ratna Sari

    NRP                : F24100016

    Laskar             : 19

    Ada sebuah pengalaman hidup seseorang yang menjadi inspirasi saya. Yang membuat saya lebih termotivasi karena kisah hidupnya. Seseorang itu adalah kakak kelas saya. Sebut saja namanya Andi.

    Saya sudah satu sekolah dengannya sejak SMP, tapi saya baru mengenalnya saat SMA. Saat SMP, saya tidak melihat ada yang khusus atau istimewa darinya. Setahu saya, ia adalah salah satu siswa yang cukup pintar. Lalu saat SMA, saya mulai mengenalnya.

    Saat saya mengikuti Olimpiade Sains, Alhamdulillah saya lolos ke provinsi dan sampai nasional. Kak Andi juga lolos, tapi hanya sampai provinsi. Saat di kabupaten, ia mendapat juara pertama Olimpiade Sains kimia. Nilainya sangat jauh dengan juara keduanya. Perbedaan nilainya mencxapai setengahnya. Ia membuat pihak sekolah bangga. Begitu juga saya.

    Kami berangkat ke bandung untuk seleksi tingkat provinsi. Dia bidang kimia, saya bidang biologi, sehingga kami berangkat pada hari yang sama.. saya perempuan sendiri di mobil itu. Apalagi saya adik kelas mereka. Saya agak minder dan tidak nyambung kalau mengobrol. Tapi saat semobil dengan mereka, saya mulai mengenal karakter mereka. Mereka baik dan tidak membedakan saya yang cewek dan adik kelas sendiri. Ramah, baik, dan tidak suka menyombongkan diri. Termasuk kak Andi juga begitu. Saya beruntung punya kakak kelas seperti mereka.

    Dua hari kami di Bandung. Setelah itu kami pulang. Saat perjalanan kami merasa lapar d tengah jalan, padahal kira-kira satu jam lagi kami sampai. Lalu kak Andi menawarkan kami dan guru-guru untuk makan di rumahnya, karena rumahnya dekat dari daerah situ.

    Saat tiba di rumahnya, saya lihat rumahnya cukup luas, tapi agak berantakan dan kurang terurus. Saya baru tahu juga saat itu kalau ayahnya seorang penjual. Saya juga baru tahu kalau ternyata orang tuanya sudah bercerai. Ia hanya tinggal dengan ayahnya yang berprofesi sebagai penjual sate.

    Di rumahnya, kami dijamu dengan baik. Ayahnya sangat ramah, sama seperti kak Andi. Sate serta sop yang disajikan pun sangat enak.

    Mereka dengan keadaan seperti itu tetap menjamu tamunya seperti raja. Saya sangnat salut dengan keluarganya.

    Pernah saya juga mendengar dari temannya yang pernah menginap di rumahnya, ia benar-benar diterima dengan baik dan ramah. Kehidupan religinya pun sangat baik. Satu hal lagi yang saya kagumi darinya, ia tidak sombong walaupun sangat pintar, tidak p[ernah membeda-bedakan teman, serta mau berbagi ilmunya kepadasiapa saja yang membutuhkan. Saat menjelang UN pun, ia sering pulang sore untuk mengajari teman-temannya di masjid. Ia pun tidak pernah kecewa apabila gagal. Ia gagal lolos OSN sampai nasional, sedangkan saya lolos. Tapi ia tidak sedih dan iri. Ia malah menyemangati saya untuk berjuang.

    Saya sempat berbincang dengannya di masjid, menanyakan akan masuk universitas apa nanti. Ia bilang kalau ia mau masuk UPI. Lalu saya Tanya, kenapa ia tidak pili ITB. Tapi dia jawab sambil senyum karena masalah biaya. Namun saya tetap yakin kalau ia bisa masuk ITB karena dia memang berpotensi. Untungnya ada program SUMO atau super motivasi untuk masuk ITB. Ia pun mencoba untuk seleksi. Alhamdulillah ia lolos. Ia hanya tinggal ikut UM ITB saja, dan kalau lolosUM, ia bisa masuk dengan beasiswa.UM ITB tidak mudah. Namun dengan ijin Allah, ia lolos teknik geologi dan mendapat beasiswa dari pemerintah provinsi.

    Pernah suatu harisaat beberapa hari menjelang ujian, saya bertemu dengannya di ruang tata usaha. Saat itu, saya sedang membayar uang bulanan. Saya melihat wajahnya murung. Saya Tanya ada ap, tapi ia hanya menjawab dengan senyum sambil bilang ‘ga apa-apa’. Lalu saya tahu dari teman saya kalau kak Andi terancam tidak bisa ikut ujian karena belum melunasi bayaran. Untungnya, pihak sekolah memberikan beasiswa prestasi untuknya sehingga ia bisa ikut ujian.

    Ia lulus sebagai peraih niali UN tertinggi di sekolah, yaitu 55 lebih, menjadi mahasiswa ITB dan mendapat beasiswa penuh. Dengan kerendahan hati, usaha yang gigih, serta ramah dan selalu berbuat baik dengan orang lain, ia bisa berhasil karena kuasa Allah. Ia juga rajin ibadah dan selalu berbagi ilmunya dengan orang lain. Allah akhirnya memberikan kesuksesan. Walaupun keluarganya tidak utuh, walaupun bukan berasal dari keluarga kaya, tapi ia bisa buktikan kalau ia bisa. Allah akan memberikan jalan pada umatnya yang mau berusaha.

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Reply
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Cancel